CORAK hubungan antara dua negara besar, Amerika Serikat dan China, yang tidak harmonis kembali terlihat jelas dalam lawatan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice awal pekan ini ke China. Rice menyatakan kerisauan AS terhadap rencana Uni Eropa mencabut embargo senjata atas China.
Rencana pencabutan itu dianggap dapat mengubah keseimbangan kekuatan militer di kawasan Asia, tempat AS memiliki pangkalan militer seperti di Okinawa, Jepang, dan Korea Selatan. Konfigurasi kekuatan militer di kawasan Asia akan timpang jika postur militer China terlalu besar.
Sudah lama AS menentang rencana Uni Eropa mencabut embargo senjata ke China, yang dijatuhkan sebagai protes atas represi terhadap kaum demonstran di Lapangan Tiananmen Beijing tahun 1989. Ribuan mahasiswa demonstran tewas oleh kebrutalan aparat keamanan.
AS sendiri selama ini mempertahankan embargo karena China dianggap tidak menjunjung tinggi hak asasi dan proses demokratisasi. Pemerintah komunis China dianggap tetap melakukan represi terhadap aktivis prodemokrasi.
Kerisauan AS yang disuarakan Menlu Rice meningkat setelah China pekan lalu mengesahkan rancangan undang-undang antipemisahan, yang memberi wewenang kepada pasukan militer China menyerang Taiwan.
Sudah berkali-kali China mengancam akan menyerang Taiwan jika wilayah itu sampai memproklamasikan kemerdekaan. Sejak terpisah tahun 1949, hubungan antara China Daratan dan Taiwan memang selalu tegang dalam semangat permusuhan tinggi.
MESKI eksistensi Republik Rakyat China diakui, tetapi AS justru memihak Taiwan. Dukungan AS terhadap Taiwan dinilai menambah keruwetan persoalan China Daratan dengan Taiwan. Namun, tidak sedikit yang berkeyakinan, dukungan AS telah membuat China tidak dapat sewenang-wenang terhadap Taiwan.
Hanya saja, keyakinan itu mulai goyah sejak China pekan lalu mengesahkan undang-undang antipemisahan. Apalagi AS sendiri mencemaskan bahaya konflik yang lebih besar. Terutama karena undang-undang itu dapat digunakan China sebagai pijakan legal untuk menyerang Taiwan.
Potensi bahaya semakin tinggi jika China kembali dapat membeli persenjataan Uni Eropa. Kemampuan China membeli persenjataan dalam jumlah besar semakin tinggi seiring dengan kemajuan ekonominya.
Dalam kenyataannya, pembangunan ekonomi yang cepat telah mendorong pula pembangunan bidang militer. China ingin meningkatkan kekuatan militernya untuk menjaga kepentingan ekonomi dan perdagangannya.
PEMBANGUNAN ekonomi dan militer yang berjalan seiring itu menciptakan persepsi masyarakat global terhadap China menjadi mendua. Pada satu segi, masyarakat global terkesan atas pembangunan ekonomi China yang begitu dinamis. Di pihak lain, tidak sedikit warga dunia mencemaskan pembangunan militer China, lebih-lebih karena negara itu mempunyai ketegangan dengan Taiwan.
Atas pertimbangan itu, AS mendesak Uni Eropa menangguhkan niat mencabut embargo senjata ke China. Lebih dari keprihatinan atas posisi Taiwan, desakan penangguhan pencabutan embargo senjata diduga pula sebagai bagian dari persaingan pengaruh di tingkat regional dan global.
Pengaruh China di panggung regional maupun global semakin menguat oleh kemajuan pembangunan ekonominya. Sebaliknya AS sebagai negara adidaya satu-satunya ingin mendikte China. Kelihatan AS kesulitan mendikte China. Bahkan lebih dari negara mana pun di dunia, China cenderung menantang dominasi dan hegemoni AS.
Sudah berkali-kali AS mengancam menjatuhkan sanksi ekonomi kepada China karena dituduh melakukan pembajakan berbagai produk elektronik maupun pembantingan harga, dumping.
Namun, China tidak tunduk terhadap ancaman AS. Sebaliknya AS justru kemudian berbaik-baik karena mungkin khawatir akan kehilangan pasar potensial China. Daya tarik pasar China memang luar biasa, yang ditopang oleh sekitar 1,3 miliar penduduknya. Daya beli masyarakat China pun meningkat akibat perkembangan ekonominya.
MASIH harus ditunggu, sejauh mana AS sukses membujuk UE membatalkan niat mencabut embargo senjata kepada China. Awal pekan ini, UE masih mengungkapkan keinginan pencabutan embargo bulan Juni mendatang meski batas waktu itu belumlah pasti.
Hanya segera kelihatan pula UE tidak begitu saja tunduk terhadap desakan AS. Kenyataan ini kembali memperlihatkan corak hubungan AS dengan sekutunya di Eropa sudah banyak berubah sejak Perang Dingin berakhir.
Selama era Perang Dingin, Eropa Barat praktis mendukung segala kebijakan dan strategi global AS. Namun, perubahan mulai terjadi ketika Uni Eropa, kecuali Inggris, tidak mendukung rencana AS menyerang Irak.
Kemandirian sikap UE itu kembali terlihat dalam kasus embargo senjata ke China. Padahal, embargo senjata ke China dikeluarkan berdasarkan kesepakatan bersama AS dan UE pada era Perang Dingin. Setelah berakhir Perang Dingin awal dasawarsa 1990-an, kekompakan memang kelihatan mengendur di tengah arus perubahan besar.
Sumber: Tajuk Rencana – Rabu, 23 Maret 2005